Kardus itu sudah sobek 1 sisinya. Juga sudah tidak layak untuk dijadikan tempat menyimpan barang-barang. Akan tetapi, karena kardus itu bagian dari pemberian orang yang disayangi… kardus itu tetap disimpan. Diperbaiki hingga akhirnya bisa bermanfaat. Kardus tetap disimpan meski sebenarnya isi kardus itu lebih indah dari kardus itu sendiri. Tapi semua bagian yang diterima baik kardus & isi tak ingin dibuangnya. Ia menjaga kardus itu sebagaimana ia menjaga isinya. Ia menyimpan kardus itu sebagaimana ia menyimpan isinya. Semua dikarenakan, itu adalah pemberian dari orang yang disayangi.

Subhannallaah… jika kita bisa menganggap musibah, petaka; bak kardus. Semua orang tak menginginkan musibah, sama seperti pecinta tak menginginkan kardus yang rusak. Akan tetapi karena kecintaan, tidaklah diratapi mengapa mesti rusak, tidak juga dibuang, dipertahankan namun tidak dibiarkan rusak melainkan diperbaiki. Musibah bak kardus, tak ada gunanya jika diratapi dan dikeluhkan, tak ada gunanya juga didiamkan tanpa berusaha untuk keluar dari musibah. Ittaqillaah wasbir — begitulah cara menyikapi musibah.

Isi kardus yang indah bak suksesi seorang anak manusia. Isi kardus yang indah tak kan terjaga keindahannya tanpa kardus yang melindunginya selama perjalanan. Suksesi anak manusia tak akan terlihat sukses tanpa aral menghadang. Ingatlah kardus maka kita akan menghargai isi kardus yang indah — semakin kuat ingin menjaganya dengan baik karena itu adalah pemberian kekasih. Ingatlah aral maka kita akan menghargai suksesi dengan sebaiknya karena itu adalah pemberian dari kekasih yang Mahaagung. Bersyukur menghargai nikmatNya. Ingatlah aral, susah, sedih, hina — maka kita akan menjadi hamba yang bersabar dan hamba yang selalu bersyukur atas nikmat Alloh. Ketika suksesi tercapai, kehormatan dikagumi banyak orang maka Ingatlah aral, susah, sedih, hina — maka kita akan menjadi hamba yang tawadhu, tidak sombong. Insya Alloh