Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ibu…
Aku bukanlah ahli fikih yang mengerti tentang perkara bid’ah…
Pun aku bukanlah orang yang membid’ahkan apa yang aku sampaikan…
Tulisan ini kubuat…
Bukan karena aku menganggapnya bid’ah…
Karena setiap perbedaan itu berdasarkan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan…
Jadi aku tak kan mempersoalnya masalah ini dari sudut pandang bid’ah dan khurofat…
Tapi aku akan mempersoalkannya dari sudut pandangku sendiri…
Aku yang awam masalah fikih…
Semoga Alloh membimbingku ketika tulisan ini kutorehkan…

Ibu…
Kuijinkan engkau mengumpulkan majlis untuk mentahlilkanku…
Bila engkau yakin tidak ada kemaksiatan didalamnya…
Bila engkau yakin wanita dan pria yang bukan mahram tidak akan bercampur baur…
Bila engkau yakin wanita dan pria menutup rapat auratnya…
Bila engkau yakin wanita yang hadir menghormati dirinya dengan berkudung menutup dada, berbaju panjang dan longgar…
Bila engkau yakin tidak akan ada gelak tawa membahana…

Ibu…
Kuijinkan engkau mengumpulkan majlis untuk mentahlilkanku…
Bila engkau yakin wanita dan pria yang datang fasih dan tartil membaca Al-Quran…
Bila engkau yakin majlis tahlilku bukanlah ajang berlomba baca yasin…

Ibu…
Bagiku amal tidak hanya berdasarkan niat tapi juga perbuatan…
Sedikit aku yang awam fikih ingin menjiplak hadits Rosulullah saw…
“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian,
tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33)…

Benar ibu…
Innamal A’malu bin Niyat… segala amal bergantung pada niat…
Alloh tidaklah melihat tubuh dan wajah kita yang tampan…
Tapi Dia melihat hati dan niat kita…

Tapi ibu…
Bagiku niat saja tidak cukup…
Kembali aku ingin menjiplak hadits Rosulullah saw…
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian,
tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Yach ibu…
Hasil jerih payah kita…
Tidaklah dinilai oleh Alloh hanya karena hati dan niat…
Tapi juga karena perbuatan…
Dia melihat hati dan perbuatan kita…

Ibu…
Kenapa aku melarangmu untuk mentahlilkanku jika yang datang bukanlah orang yang fasih dan tartil membaca Al-Quran…
Karena aku takut meninggalkan dosa untukmu Ibu…

Ibu…
Sebagai seorang muslim…
Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengingatkan saudara kita yang khilaf…
Apakah jika ahli tahlil itu khilaf dengan bacaan Qur’annya…
engkau akan meluruskannya…
Jika engkau sanggup…
Maka silakan tahlilkan aku…
Tapi jika engkau tidak sanggup…
Maka aku juga tak sanggup menanggung dosa yang menyebabkan mu membiarkan kekhilafan terjadi…
Ada berapa ahli tahlil yang datang ibu…
Aku tak sanggup menanggung itu semua…

Ibu….
Dari beberapa majlis tahlil yang ku hadiri…
Aku melihat bahwa majlis itu bak majlis perlombaan baca Yasin…
Kenapa ibu…
Karena yang aku lihat ahli tahlil selalu ingin menamatkan secepat mungkin bacaan Yasin…
Aku bahkan tidak bisa mendengarkan bacaan apa yang mereka baca…
Karena kecepatan lisan mereka…

Dan pernah ibu…
Ketika aku duduk disuatu majlis tahlil…
Ada seorang ahli tahlil yang membaca Yasin dengan tenang, tidak terburu…
Sehingga ia ketinggalan dari yang lain…
Dan ketika ia meninggalkan majlis…
Ahli tahlil yang lain meributkannya seolah-olah itu adalah aib bagi dirinya…

Aku sedih ibu…
Aku merasa kasihan…
Bukan untuk dia yang dengan tenangnya membaca kalam Illaahi…
Tapi untuk mereka yang menggunjingkannya seolah-olah bacaan mereka lebih baik…

Silakan tahlilkan aku ibu…
Jika ahli tahlil yang kau undang adalah orang-orang seperti dia…
Yang dengan tenang dan khusyuknya membaca kalam Illaahi…
Aku takkan melarangmu untuk itu…

Ibu…
Zakat yang dikeluarkan seorang muslim adalah 2,5% dari pendapatan bersihnya…
Maka ibu… kuijinkan engkau memanggil ahli tahlil sebanyak mungkin…
Jika jumlah yang hadir dalam majlis tahlil itu adalah…
Sebanyak 97,5% fakir miskin, anak yatim, musafir, dan orang yang berjihad di jalan Alloh…

Ibu…
Kuijinkan engkau memanggil ahli tahlil…
Jika mereka juga berdoa dengan bahasa ibu mereka…
Bahasa yang mereka pahami benar artinya…
Karena demikian aku lebih yakin akan kekhusyukannya…

Dan yang terakhir ibu…
Kuijinkan engkau memanggil ahli tahlil…
Jika semua itu tidak membebanimu…
Tidak memberatkanmu…
Jangan sampai kau berhutang hanya karena ingin memanggil ahli tahlil…
Jangan sampai kau jatuh sakit setelah acara selesai…

Ibu…
Doa darimu dalam setiap sujud sholatmu lebih berharga bagiku…
Doa dari suamimu — ayahku dalam setiap sujud sholatnya lebih berharga bagiku…
Doa dari abang dan adik-adikku dalam setiap sujud sholatnya lebih berharga bagiku…

Ibu…
Inilah keinginanku jika aku meninggalkan dunia ini terlebih dahulu darimu…
Semoga Alloh senantiasa memberikan hidayah dan kebaikan dunia akhirat bagi kita semua…
Amiiinnnn