Bismillaahirrahmaanirrahiim

Tadinya Angga mau nulis tentang sistem antrian yang aneh di salah satu klinik spesialis yang ada di Pontianak. Mau marah-marah ceritanya. Tapi, niat itupun berubah haluan seiring dengan mengalirnya pengaduan seseorang yang mengingatkan Angga tentang memori yang ingin Angga kubur tapi ternyata memori itu melekat dalam alam bawah sadar Angga.

Diumur Angga yang 4 bulan lagi akan 25 tahun Insya Alloh… ternyata masih ada seorang laki-laki yang menunjukkan keperkasaannya kepada wanita dengan kekerasan. Lebih menyedihkan lagi, wanita itu sedang mengandung anaknya. Walhasil, wanita itu pun keguguran. Angga jadi teringat akan kenangan masa kecil yang masih terekam jelas di otak Angga. Sangat jelas terbayang dalam ingatan bagaimana seorang ibu yang sedang hamil dicampakkan keluar rumah oleh suaminya sehingga ibu itu pun terjatuh dari tangga. Setelah terjatuh, si ibu masih lagi dikasari secara fisik oleh suaminya. Kejadian ini tidak hanya Angga yang menyaksikan, tapi seluruh tetangga dekat yang lainnya juga ikut menyaksikan. Alhamdulillah ada seorang tetangga yang dengan beraninya melerai dan menahan si Bapak untuk tidak menyiksa istrinya lagi. Kalau tidak, mungkin si ibu dan anak yang dikandungnya tidak akan selamat.

Yachh, KDRT memang kerap kali singgah dipangkuan ibu tersebut. Ironisnya, meski KDRT itu terekspos keluar, meski banyak saksi mata yang melihat — tapi tak seorangpun yang peduli. Mereka hanya bisa iba dan kasihan terhadap si ibu. Iba, kasihan kepada si ibu? Bagi Angga itu bukan suatu kepedulian tapi suatu bentuk KAKI TANGAN KDRT. Angga jadi sering bertanya-tanya, kemana keluarga si ibu? kemana Bapaknya yang menikahkan ia? Kemana abangnya? Kemana adiknya? Padahal setahu Angga si ibu berasal dari keluarga besar militer. Bapaknya perwira AD, Abangnya perwira AD, adiknya Bintara Kepolisian, lalu kemana larinya mereka? Sepertinya KDRT yang menimpa anak dan saudara mereka merupakan suatu tembakan peluru, yang harus dihindari kalau perlu bersembunyi.

Seperti itukah sikap lelaki perkasa. Pangkat boleh tinggi tapi ternyata tak bernyali untuk membela darah daging sendiri. Atau si suami — yang hanya berani dengan wanita lemah yang sedang hamil. Tapi, Alhamdulillah untuk kasus yang baru terjadi, ada pembelaan dari keluarga si istri. Si Abang tak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Karena suami tidak mau bertanggung jawab dengan gugurnya kandungan si istri, si abang istri berniat melaporkan ke Polisi. Wah, padahal si Abang bukan perwira loh… Ini baru bernyali.

Baru-baru ini, Angga juga dikejutkan dengan meninggalnya seorang adik dari teman SD Angga. Beliau meninggal muda — masih kuliah tingkat 1. Yang menyedihkan adalah diagnosa meninggalnya karena depresi masalah keluarga. Entahlah, Angga jadi semakin bingung apa yang ada dibenak para ibu. Mempertahankan sesuatu yang “aneh” tapi “keanehan” itu dibiarkan terus berlarut, disaksikan anak-anak. Angga tahu, si ibu mempertahankan diri menjadi “tumbal” demi anak-anak agar mereka tidak terlantar. Tapi, apakah mereka sadar aksi “bunuh diri” secara perlahan yang mereka lakukan, tidak hanya membunuh “karakter” mereka, tapi juga membunuh karakter anak-anak mereka. Ketakutan adalah satu hal yang Angga yakin benar tertanam dalam alam bawah sadar dari anak-anak mereka. Meski mereka tidak mengakui, tapi hal itu tampak dari tingkah laku mereka setelah dewasa, tampak dari bagaimana cara mereka menjalani hidup.

Anak-anak itu, mereka — ingin sekali Angga membantu mereka tapi Angga tidak tahu bagaimana caranya. Dari sorot mata mereka Angga bisa lihat kepedihan. Meski hari-hari mereka dipenuhi dengan candaan, tapi ada sesuatu yang Angga lihat dari sorot mata mereka. Sesuatu yang akan menjadi bom waktu — yang akan meledak jika alam bawah sadar mereka tak sanggup lagi untuk menahannya. Dan beberapa waktu yang lalu, apa yang Angga perkirakan terjadi. Ketakutan yang terpendam dalam alam bawah sadar — ketakutan yang tidak mereka sadari — akhirnya keluar. Tapi, sekali lagi… ini tidak keluar semuanya. Karena sepengamatan Angga sampai sekarang, sepertinya mereka masih menyimpan beban. Entah mereka sadar atau tidak — Angga juga tidak tahu.

Hahhhh, entahlah, entahlah, entahlah. Sepertinya apa yang terjadi pada mereka juga berdampak pada Angga. Bisa dikatakan sebenarnya Angga takut dengan sparing partner kaum hawa. Memang, teman-teman Angga kebanyakan laki-laki. Mengapa begitu? Karena “diposisikan sebagai teman” Angga 100% banget percaya pada mereka. Tapi untuk hal lain, reflek Angga ga percaya. REFLEK — yachh reflek. Angga juga bingung kenapa. Sudah ada beberapa yang awalnya adalah teman — berusaha untuk mendekati — merubah kedudukan dari posisi teman menjadi posisi ” “, secara ga sadar Angga ambil langkah kaki seribu. Mulai dari menjauh, cuek, ga peduli, dll. Capek juga sih… Udah berusaha untuk mengobati penyakit satu ini… dduh belum berhasil juga. Sampai-sampai Angga disuruh ke Psikiater sama Mamak… Yachhh…. wajar sih. Seorang ibu mencemaskan anaknya… Mudah-mudahan aja bisa “sembuh”. Bagaimanapun juga, Angga masih waras gitu loh😀 (sambil ngelirik bilop)… Wkwkwkwkw……

Wahai lelaki, tunjukkan keperkasaan sejatimu,
Apa yang kalian lakukan terhadap kaumku,
Sebenarnya adalah bukti nyata kalau kalian hanyalah seorang pengecut,
Buktikan pada saudara perempuanmu kalau kalian bukan pengecut,
Buktikan pada ibumu kalau kalian bukan pengecut,
Buktikan pada anak perempuanmu kalau kalian bukan pengecut,
Dan buktikan pada istrimu kalau kalian bukan pengecut.

Done.