“Untuk zaman yang menjadi saksi nafsu manusia meneteskan liurnya
saat menatap kursi-kursi kekuasaan, yang kelak akan ia Pertanggungjawabkan… “

Damaskus pada malam-malamnya yang dingin…

Sudah beberapa malam ini, Umar ibn Abdil Aziz, sang khalifah itu gelisah di pembaringannya. Matanya selalu saja sulit ia pejamkan. Dan malam itu agaknya menjadi puncak dari segala kegelisahannya. Bukankah waktunya semakin dekat, dan bagaimana pun juga ia harus menjatuhkan pilihan. Di hadapannya kini telah telah jelas dua sosok itu. Sudah pasti pula bahwa pilihannya tidak akan keluar dari kedua orang itu. Namun justru disitulah puncak kesulitan yang sesungguh¬nya. Memilih satu dari dua orang. Dan persoalannya keduanya adalah yang terbaik. Dalam soal kefaqihan, keteguhan pada yang haq, pemikiran yang cemerlang dan pandangan yang tidak hanya dalam tapi juga jauh ke depan; dua pria inilah yang terbaik…

Lanjut selengkapnya